Memang ada benarnya tulisan di Wikimu bahwa kampanye Pemilu 2009 belum direspon masyarakat Aceh. Padahal umbul-umbul, bendera, dan lambang-lambang partai (baik lokal maupun nasional) terpajang di banyak ruas jalan, di emperan pertokoan, di baliho, di pagar-pagar jembatan utama, bahkan hingga ke gerbang-gerbang pembatas kabupaten.
Apakah ini merupakan gejala mulai diimpornya sikap Partai Golput yang sudah terbukti menjadi pemenang dalam banyak ritual Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di sejumlah daerah? Bisa jadi. Kekecewaan yang tadinya dalam skala nasional, dan mulai merambah ke skala lokal. Sebuah bentuk pesimisme massal yang berakumulasi hingga ke skala lokal.
Namun, sebagai salah satu dari yang masih memiliki optimisme - setidaknya untuk iklim yang lebih baik di Aceh ini - saya memaklumi adanya kecuekan demikian. Kecuekan banyak warga masyarakat yang akan lebih memilih menghabiskan kopi dan melafalkan caci-maki pada negeri yang carut-marut, demokrasi yang dikebiri, sikap-sikap laknat para pejabat keparat, lalu berdoa agar semua berubah dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa Atas Segalanya…
Ya, saya memaklumi yang demikian, ketika mereka yang sudah di titik nadir kepercayaan itu adalah para manusia yang terzalimi secara individu dan bukan kelatahan ikut-ikutan merasa dizalimi di tengah kehidupan yang mapan. Ya, saya bisa memaklumi ketika mereka yang sudah di titik kemuakan pada basinya basa-basi 5 tahun sekali itu adalah para petani yang waktunya tercuri sia-sia untuk pesta demokrasi, mencoblos wajah-wajah yang tak dikenal, dan lalu… tak ada yang berubah…
Benar. Saya bisa memaklumi. Seperti maklumnya sejumlah teman-teman saya pada wajah-wajah yang mencengir pahit saat ditanya, “Apa yang akan bapak/ibu pilih nanti, saat pemilu 2009 di Aceh?”. Pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab dari sorot-sorot mata yang berkata, “Apa yang harus saya pilih? Semua sama saja… Semua cuma wajah-wajah lama… Semua itu ke itu saja…”
Pun jika memang terbukti bahwa kecenderungan pada sikap golput sudah menjadi kesepakatan mayoritas penduduk negeri di ujung Sumatra ini, kiranya tak ada yang berhak untuk murka. Tak perlu panik seperti wanita turunan proklamator Indonesia, yang sampai berteriak “Yang golput tak pantas jadi WNI” beberapa waktu lalu.
Pernyataan tersebut bukankah bisa dipertanyakan akar masalahnya? Mungkin karena kecewa menjadi WNI, maka ada yang memilih untuk tidak memilih? Atau… sebagai WNI, siapa saja berhak untuk memilih atau tidak memilih. Atau… seseorang memilih untuk tidak memilih justru karena ia seorang WNI…
Entahlah…
Bagi saya sendiri, satu-satunya pemilu yang saya ikuti hanyalah pemilu 1999. Itu pun kali pertama saya ikut pemilu. Sebuah pemilu di tanah dimana saat itu bunyi bedil dan meriam bambu tak jauh berbeda kemampuannya untuk membuat petani di sawah tiarap dalam lumpur, anak-anak meraung terbirit pulang ke rumah, dan para ibu menjadi induk ayam yang panik berkotek memanggil anak-anaknya.
Saya tak ingat apa-apa saja yang saya coblos saat itu, selain PPP. Maklum, basis keluarga besar yang masih muslim tradisional mendorong saya mencoba percaya dengan logo Ka’bah dan ingatan betapa besarnya nama partai yang satu itu di Aceh. Setidaknya, selama Orde Baru, Golkar saja kesulitan mengakuisisi Aceh sebagai kawasannya, diluar Korpri dan sekian organisasi pegawai negeri sipil yang lehernya dicengkeram partai pohon beringin itu dulu.
Pemilu berikutnya, saya malah melarikan diri dari kontrakan. Ke laboratorium kampus. Ke tempat kontrakan teman-teman. Atau ke asrama mahasiswa paguyuban baik yang sedaerah atau dari daerah lainnya. Beberapa kali mangkir dari jaga malam, membuat tidak aman berada di kontrakan.
Caci-maki tentang kewajiban busuk saat itu, ternyata sampai ke telinga petugas keamanan yang bertugas di kompleks kawasan kampus saat itu. Caci-maki karena kekesalan saya melihat bagaimana dalam kondisi letusan bedil masuk ke kawasan kampus dan orang-orang bersenjata yang diberi label OTK gentayangan macam kuntilanak mencari tumbal, kami yang sipil diwajibkan berjaga malam. Jaga malam di pos yang rentan diserang oleh para pemilik senjata api tak bernama. Di pos dimana kami bahkan tak boleh membawa senjata meski hanya sebatang balok kayu saja. Bukan sekali-dua kabar dan kenyataan tentang pos jaga malam masyarakat sipil dikirimi peluru terdengar. Korban jatuh, dan tidak ada yang ambil pusing dari mereka yang seharusnya melindungi warga sipil.
Apa yang paling menyebalkan, pos itu sendiri jaraknya bahkan tak sampai 100 meter dari pos mereka yang di-BKO-kan di sana. Sementara para ksatria negara itu petantang-petenteng membalapkan motor trail mereka, membawa pulang betina entah darimana lewat tengah malam, warga sipil mesti berjaga sejak pukul 9 malam sampai nanti suara ngaji terdengar dari mesjid kampus. Belum lagi kalau yang piket otaknya dalam kondisi tidak waras karena menghisap ganja atau kebanyakan menenggak alkohol. Beberapa kali aparat mabuk begitu datang mencari masalah yang ujung-ujungnya mengerjai para sipil yang sedang naas kena jatah jaga malam. Macam mana tak keluar caci-maki jadinya?!
…
Sudahlah, lewatkan saja kenang-kenangan tak enak itu.
Yang saya tahu… Aceh hari ini sudah aman. Setidaknya untuk sementara waktu ini. Konon segala pernak-pernik dendam sudah dikuburkan. Sudah dipancung seperti 840 pucuk senjata GAM yang diserahkan sebagai bagian dari perjanjian damai. Sudah dicabut seperti dicabutnya 24.165 tentara dari tanah ini. Ya… Aceh memiliki opsi untuk memperbaiki kehidupannya sendiri.
Memang, di awal-awal masa damai itu, saya mencengir pesimis. Saya tak peduli. Saya masih sakit hati dengan ingatan pada tonjokan yang pernah mampir di lambung, dengan moncong bedil SS-1 dan M-16 yang pernah dimain-mainkan di kepala (satu bagian yang sakral dalam adat Aceh). Saya masih tak bisa menerima kematian tanpa sebab kerabat dan teman-teman yang mengapung di sungai, yang dicampak di pinggir lintasan jalan nasional, yang dibuang di ujung kampung.
Namun… tiba pula waktunya saya mesti menerima kenyataan bahwa tak ada kemampuan berbuat apapun tanpa menerobosi jalur-jalur kekuasaan. Merasakan pahitnya berurusan dengan birokrasi busuk cuma untuk memastikan beasiswa kemiskinan kembali dari tangan anak-anak orang kaya ke tangan yang berhak, santunan pendidikan korban tsunami yang justru dicicipi bocah-bocah yang dari keluarga mapan, hingga perkampungan di luar kota yang masih memiliki rakit hingga hari ini; saya tak melihat opsi lain selain menerima tendangan di pantat pendapat dari teman-teman yang masih optimis untuk mau melihat salah satu jalur yang tersisa : jalur demokrasi.
Opsi yang ada memang dikebiri. Oleh birokrasi yang berulang-kali membentuk kemapanan sendiri para birokratnya. Oleh parlemen yang berganti wajah tapi tidak berganti tabiat dalam menelan dana, batu bata dan semen-semen. Bahkan oleh keapatisan diri-sendiri yang berharap pada keajaiban agar segalanya berubah, dengan keuntungan untuk cuci-tangan saat semuanya tidak menjadi lebih baik.
Salah satu diantara jalur itu tak lain-tak bukan adalah: Partai lokal.
Jujur saja, bahwa yang satu ini memiliki apologia bagi saya dan teman-teman untuk mencoba percaya pada bermain dalam sistem. Sistem yang berkali-kali dikoreksi dan dikritiki, meski dengan cibiran di bibir sekali pun. Sistem yang ditakut-takuti sebagai penggerogot idealisme para idealis. Sistem yang alkisah membuat figur aktivis-romantis macam Gie dikenang sebagai idealis yang mencari aman damai di puncak pegunungan dan kembali sebagai orang mati yang suci dari dosa-dosa angkatan ‘66.
Kenapa dengan partai lokal?
Artikel dari Radio Netherlands Worldwide menyebut demikian :
Kampanye pemilu 2009 di Aceh merupakan tahap lanjut perdamaian 2005. Salah satu paling alot perundingan Helsinki, yaitu kesepakatan tampilnya partai lokal, menjadi kenyataan yang meramaikan demokrasi Indonesia. Sekaligus, parlok, partai lokal, dan kampanyenya menunjukkan wajah Aceh baru. Sejak tahun tahun belakangan, Aceh menjadi kenyataan tersendiri di tengah Indonesia. Tidak hanya konflik, bencana tsunami, dan perdamaian, tapi banyak isu nasional tak bergaung di Aceh. Soeharto mati, Aceh tak peduli; Golput naik daun, tak berimbas di Aceh; munculnya tokoh generasi muda dan selebriti dalam pilkada Jawa Barat dan Sumatra Utara, juga tak menular ke Aceh; bahkan protes kenaikan harga BBM pun tak ramai di Aceh.
Tapi paling karakteristik adalah parlok. Enam dari 14 parlok, partai lokal, lolos verifikasi dan bertanding dengan 39 partai nasional di Aceh. Empat dari keenam tersebut tampil murni lokal, tanpa kaitan dengan tokoh-tokoh mau pun partai-partai nasional. Keempatnya vokal dan mengaku berbeda dengan partai partai nasional yang di Aceh dianggap kurang kredibel, bahkan dianggap gagal.
*sisanya, silakan dibaca sendiri*
Apapun alasan yang dipajang di sana, saya melihat di peluang yang diberikan untuk memperbaiki daerah dengan partai lokal itulah, yang mendasari kebangkitan gairah kalangan muda di Aceh. Sedikit banyak, persis seperti artikel “Kegairahan Baru Di Bumi Aceh” dari Wilson Opressia yang pernah saya postingkan di blog saya yang sudah ditutup.
Bukan saja karena kinerja jelek DPRD Aceh (dari provinsi hingga kabupaten) yang memberi alternatif mata masyarakat pada wajah-wajah dari partai lokal yang membuat saya mengapresiasi partai pribumi ujung Sumatra ini. Saya tak seoptimis yang lain bahwa sebuah idealisme akan begitu dahsyatnya menyapu suara yang rentan dibeli limpahan dana kampanye dalam “Serangan Fajar” di hari pencoblosan. Juga tidak terlalu peduli pada celah yang rentan dicap “Black Campaign” tersebut, seperti tidak pedulinya saya pada keharusan partai lokal untuk ‘bernasionalis-ria’ yang dianjurkan di kolom opini Serambi Indonesia. Tidak perlu berpikir terlalu jauh dari Sabang hingga Merauke untuk kesempatan yang cuma secuil itu, menurut saya. Sebuah pesimisme tersendiri secara pribadi, yang membuat saya tak peduli dengan cibiran, kekecewaan yang dibungkus keindahan satir atau malah sarkastis pada kondisi negara ini seperti yang muncul di media massa atau internet nusantara. Terserahlah yang diluar sana mau bicara apa… Bagi saya, semua dimulai dari titik kecil yang ada, yang tersisa. Hasrat yang masih memiliki bara dan tak cukup dilampiaskan dengan sekedar ber-sardonic-ria untuk menunjukkan kualitas intelektual rakitan ensiklopedia saja.
Tapi, setidaknya saya boleh berharap bahwa ada satu-dua dari angkatan muda tanah ini, yang memang sudah menjadi pesakitan karena tidak diberi peluang maju, dapat membuktikan kemampuan beroposisi bahkan ketika sudah dalam sistem sekali pun. Senaif itu, memang. Hal yang sama-sama disadari, bahwa adalah sukar berpendirian teguh ketika sudah di dalam gedung para wakil rakyat yang diberi jas dan dasi dan mobil dan tunjangan dan gaji dan dana reses bla bla bla dari pajak rakyat.
Dan harapan itu yang membuat saya menggeleng ketika ada yang bertanya, “Golput?”
Dan harapan itu yang membuat saya mendukung satu dari partai lokal di tanah ini. Partai dimana teman-teman lama masih gigih mengendarai motor antar kecamatan, antar daerah, untuk membagikan tabloid yang tidak berisi propaganda melulu, namun juga pendidikan politik pada masyarakat. Pada mereka yang mungkin tak pernah terlintas bahwa aktivitas mereka menebang kayu di hutan cuma untuk penghidupan keluarga, menjadi kambing hitam pengusaha HPH yang cari muka di depan tekanan negara maju. Negara maju yang juga mencari kambing hitam atas dosa-dosa mereka menggunduli pulau dan benua mereka sendiri.
Dan… harapan itu yang saya tumpukan pada partai ini :
Bukan karena ada teman-teman dan kerabat yang khilaf menyuruh untuk maju, maka partai ini menjadi tumpuan harapan dan kepercayaan. Saya tak memiliki ambisi sebesar itu untuk masuk ke dalam parlemen atau pemerintahan. Tanpa bermaksud merendahkan PNS (yang merupakan pekerjaan dominan kerabat, bahkan Ibu saya sendiri), menjadi PNS adalah lebih baik, jika boleh memilih. Untuk perkara “naik-naik ke puncak gunung” itu, saya lebih suka menjadi simpatisan saja.
Karena, saya tak ambil pusing dengan partai itu sendiri. Partai yang difitnah sebagai partai orang-orang kiri. Apapun ideologi di sana, bukan urusan penting. Satu-satunya yang tersisa adalah kepercayaan pada teman-teman lama. Teman-teman yang jauh lebih sakit menjalani fase-fase masa lalu dibanding saya sendiri. Teman-teman yang juga tidak senorak aktivis, mahasiswa, sarjana dan intelektual oportunis yang berbondong-bondong menjilati pantat para negara donor; yang bukan sebuah masalah jika saja tidak lantas mereka menjadi orang-orang yang lebih bule daripada para bule, yang memperolok tanah kelahirannya sendiri, yang tiba-tiba menjadi sekularis karbitan, yang bangga menenggak bersloki-sloki whisky karena status pergaulan internasional, yang sudah tahu menyisipkan kata “fuck” atau “asshole” sebagai kalimat makian yang keren…
Singkatnya: adalah orang yang boleh diharapkan dan dipercayai, dan bukan warna, lambang, jargon atau bendera sebuah partai belaka. Keputusan yang membuat saya dan teman-teman bisa menghargai teman-teman lain yang ada di partai-partai lokal dan nasional lainnya
Harapan dan kepercayan. Itu saja. Tidak lebih banyak dan lebih kurang dari itu. Sehingga jika satu waktu nanti harapan dan kepercayaan itu salah… maka pilihan untuk kembali bersama orang kampung berbagi hasil kebun atau bergabung dengan teman-teman yang apatis dalam hal politik namun optimis dalam kegiatan sosial, tidak akan membawa sakit hati yang lebih pahit dari rasa pengkhianatan masa-masa di kampus. Masa-masa penuh jargon… dan harapan… dan kepercayaan…
*
*
*
Ya… postingan ini mungkin terasa berbau propaganda di mata sensitif anda. Terlalu politis atau malah mengesankan kebaikan satu pihak. Padahal setiap sesuatu ada sisi busuknya tersendiri. Namun, apa yang ingin saya katakan, setidaknya jika anda orang Aceh: manfaatkanlah peluang yang ada. Menjadi golput memang hak. Segala peraturan yang mengebiri hak untuk golput adalah peraturan keblinger. Peraturan dari mereka yang panik dengan prediksi persentase golput yang mencapai 40% pada tahun 2009.
Tapi… tidakkah kita juga memiliki konsekuensi bahwa kita tidak punya banyak alasan untuk marah dan mengamuk satu hari nanti ketika BBM naik kembali untuk ke 100 kali, atau orang-orang yang tak pernah kita pilih lewat dengan mobil plat merah berharga ratusan juta di jalan becek dengan kesombongan menjijikkan dan tanpa merasa bersalah menyipratkan air genangan bau comberan ke tubuh kita?
Apa saya pernah semarah itu? Pernah. Kemarahan yang dihiasi caci-maki dengan penyebutan sejumlah isi kebun binatang dan lalu berakhir dengan dampratan pertanyaan lain untuk diri sendiri: “Kau tidak pernah memilih mereka atau yang sedikit lebih baik dari mereka, bukan?”
Been there done that

Some rules are meant to be broken. Even our own defensive pessimism…
jadi kiban di gampong awak?
sanggup gak itu anak2 muda lawan yang beduit?
“Tapi⦠tidakkah kita juga memiliki konsekuensi bahwa kita tidak punya banyak alasan untuk marah dan mengamuk satu hari nanti ketika BBM naik kembali untuk ke 100 kali, atau orang-orang yang tak pernah kita pilih lewat dengan mobil plat merah berharga ratusan juta di jalan becek dengan kesombongan menjijikkan dan tanpa merasa bersalah menyipratkan air genangan bau comberan ke tubuh kita?”
bagaimana orang yang kita pilih? apakah lebih baik dari yang tidak kita pilih? apakah dengan memilih kita punya dasar pembenaran untuk mengamuk?..jangan-jangan malah orang yang kita pilih,sering mengambil posisi sebagai lawan ketika kita mencoba untuk mengkoreksi sedikit….bagaimana pula jika mereka cuma memanfaatkan hak pilih kita untuk kepentingan pribadinya saja?trus,apa yang kita dapatkan dari memilih? apakah mereka tau mengapa prediksi golput bisa mencapai 40%?…tanya mulu neh..he.he.he…
Fenomena golput tetap akan menjadi prioritas dan isu menarik untuk dibahas dan saya pikir semua idealisme dan visi akan membuahkan hasil apabila diramu dengan konsep political marketing.
kebenaran akan timbul apabila pembenaran dikebirikan, dan masalah ini akan terjawab pada pemilu 2009 nanti, dan akan kemana Aceh pada masa yang akan datang.
[...] rakyat adalah borok sejarah yang harus di tinggalkan dan dilupakan. Besoknya, aku diundang oleh alex, untuk ikut rapat internal DPD PRA (Partai Rakyat Aceh), jujur, sampai saat ini, aku merasa [...]