Apel

Pornografi?

Boleh jadi demikian di mata anda. Tapi, saya memandang gambar diatas itu lebih lama jauh dari itu. Memang, ada nuansa seksual dengan “sejumput rangsangan nafsu” di sana. Namun, bagi saya berbeda dari rangsangan bermenu bokep ala video si Vivid atau Puan Miyabi yang legendaris itu (setidaknya hasil googling membuktikan betapa sensasional lonte pemeran film porno yang satu itu di ranah internet negeri Pancasila ini).

Mungkin karena kebanyakan merokok hari ini atau pikiran sedang sedikit letih menggarap project kecil-kecilan dengan teman-teman, atau karena sedang tidak bernafsu, maka pikiran saya kali ini sedikit lurus? Entah :|

Awal dapatnya gambar itu sendiri bermula dari keisengan menjelang pagi, yang mengisi penghujung malam dengan mengutak-atik theme di blog ini: StarScape Theme (1.4.4: Draco). Theme yang menjadi pilihan saya sebagai pemanis blog bermesin Wordpress 2.6 ini, setelah menjajal beberapa theme gratisan yang pernah saya pakai dan tidak cukup klimaks memuaskan. Untuk membuat theme sendiri… sayang sekali, saya belum mampu sejauh itu :(

Memang, theme ini layak diacungi jempol. Memiliki modul pengaturan sendiri di panel desain seperti gambar di bawah ini:

Banyak yang bisa dilakukan dengan pengaturan tersendiri dari theme bagus itu. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan untuk mencari cadangan theme yang mungkin bisa didesain ulang jika ada waktu nantinya.

Dan, si adik kecil yang nongol di postingan kemarin membawa saya merambah ke satu layanan penyedia theme gratisan yang dulu pernah saya datangi. Postingannya tentang ganti theme blog, membuat klik tetikus (a.k.a mouse), nyasar ke WpThemesFree. Layanan yang kemudian membuat jari tangan usil mengklik kategori adult yang ada di sana :mrgreen:

Nah, diantara sejumlah theme yang materinya beda-beda tipis dengan pornografi itu, ada satu theme yang menarik mata saya : Eve’s Apple 2.0, yang bisa dilihat sendiri di test sitenya ini, dan kemudian menjelma menjadi gambar yang terpajang di atas sana. Gambar selangkangan tertutupi buah apel yang ranum.

Ingatan pun melayang pada cerita tentang Eva. Tentu saja bukan Eva yang punya bintang ijo di langit yang biru, melainkan Eva yang merupakan nama lain dari Siti Hawa di lidah manusia Eropa :D

*digaplok empunya blog bintang ijo*

Saya jadi memikirkan kembali (dengan rileks, tentunya) bahwa antara buah apel dan perempuan, ada kaitan erat. Buah yang feminim dan sepertinya memang ditujukan untuk makhluk-makhluk fenimim. Bicaralah apel dan bicaralah tentang perempuan, maka imaji tak akan jauh dari bayang-bayang sensualitas, kehalusan, nafsu, gairah, kasih sayang… dan lain-lain. Pokoke, something like that lah :D

Meski dalam agama saya sendiri, Islam, cerita buah apel (yang bahkan namanya saja beda: khuldi) dan konsep original sin tidak dikenal, namun menarik untuk mengikuti ide-ide seputar pertanyaan antara dosa, nafsu dan manusia. Pertanyaan sejenis “Who is to blame for Original Sin the One who ate the fruit or the One who created the tree?“, misalnya. Itu pertanyaan menarik karena berhubungan dengan eksistensi manusia dalam agama dan filsafat, sekaligus tentang skenario Tuhan.

Dulu di pesantren, pernah juga ada pembahasan begini. Ya, pembahasan lama, memang. Pembahasan yang berkisar pada ayat ini, misalnya:

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).”

Argumen bahwa larangan tersebut adalah larangan untuk melakukan sexual intercourse, bukan argumen baru. Argumen yang sama yang melandasi pemikiran bahwa buah larangan itu (apel ataukah khuldi namanya) tak lain dari “itu”.

Itu?

Ya, “itu”. Masa mesti ditebalkan lagi? :?

Vulgarnya, “apel” yang terpajang sesudah lembar-lembar busana terlucuti itulah yang “disantap” dan dihasudkan setan dengan “melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)” itu.

Kontroversi tentu saja ada. Pro dan kontra antara yang mencoba lepas dari dogma dan taklid semata versus yang takut atau enggan membahas apa-apa yang dari langit. Hal biasa dari sekian ragam simpang-siur cerita dalam kehidupan manusia.

Namun lepas dari itu semua, saya tidak menolak dan tidak merendahkan dengan nafsu kotor, ketika kalkulasi “apel + perempuan” mampir di dalam benak. Persamaannya tetap saja satu : keindahan. Dengan atau tanpa hubungan berkeringat-berkelenjar sekalipun.

Ah ya, ada kutipan menarik dari orang yang sudah mati berikut ini:

After all these years, I see that I was mistaken about Eve in the beginning; it is better to live outside the Garden with her than inside it without her.

Mark Twain, Extracts from Adam’s Diary (1904)

Pencipta dua tokoh favorit (Tom Sawyer dan Huckleberry Finn) di waktu SD dulu itu, boleh jadi berkesan ngawur ucapannya. Utamanya di mata mereka yang doyan dogma dan taklid itu. Namun, terasa-rasa benar pula itu celetukan. Setidaknya, di waktu kekayaan keuangan sedang membaik dan hidup lebih mudah belakangan ini, atau waktu berada di surga kecil di kampung halaman sana (dengan sungai, pantai, kebun dan ketenangan tersendiri), ucapan demikian terasa menyentil jadinya. Surga yang damai untuk pribadi itu seperti Recycle Bin di Windows yang diklik tulisan “Empty Recycle Bin” :roll:

*membenamkan puntung rokok ke asbak*

7 Responses to “Apel”

  1. alex® says:

    *ingatapeldikampung.com* :?

  2. ndarualqaz says:

    wah, kelihatane enak tuh yang dibalik apelnya..

  3. SatoNa says:

    aduh.. tak menyangka blogku terselip di sana. hihi.. jd malu.. :P
    huee.. aku baru pernah denger lho yang pertanyaan “who is to blame…….” bener juga yaa.. kl itu pohon ga dibuat, khan ga akan ada yang makan apel nya.. :(
    tapi sampe skrg bingung.. emank apel mirip gitu ma alat vitalnya cewe? -_-

  4. alex® says:

    @ ndarualqaz

    Iya. Kelihatannya enak itu, memang…

    *ngiler* :P

    @ SatoNa

    He? Kenapa jadi malu? Lha iya, kalo ndak iseng ngeklik lagi itu penyedia theme, ndak dapat pic sebagus itu :P
    Ah, pertanyaan itu pertanyaan filosofi benarnya. Lebih bernada retoris, karena pada akhir jawaban juga berdasar pada free will dari manusia untuk patuh atau tidak pada Tuhan. Tidak ada paksaan tho? :)
    Uhm, ya… dikatakan mirip sih ndak tahu juga. Ndak sejauh itu lihat itu mikirnya sih :roll:
    Tapi apel memang sudah kadung jadi simbol pembahasan religius dan sex itu. Dalam hal sex, katanya sih melambangkan kesuburan :)

  5. LieZMaya says:

    mmm kenapa ya pornografi kebanyakan selalu dikaitkan dengan umat hawa?
    mmm binun.

  6. smieface says:

    hmmmmm,

    Teori Graphitasi Newton juga gara-gara kepalanya ketimpa buah apel, yang jadi pertanyaan, apel benaran atau “apel”, *tumbuh tanduk, kuping jadi lancip*
    he.he.he..he..he..he

  7. alex® says:

    @ LieZMaya

    Sa…saya juga tidak tahu kenafa bisa begithu, nona… :?
    *ikut2an binun* :roll:

    @ smileface

    hmmmm,
    Teori Graphitasi Newton tiada pernah daku dengar selama hidup di dunia fana ini, Tuan.

    Sial sekali si Newton bisa tertimpa buah apel itu. Di kebun siapa pulanya dia duduk waktu itu? :?
    .
    .
    .

    HOI!! TYPO MLULU!!
    *timpuk master typo pake asbak* :evil