Satu pasangan muda di satu kota kecil kemarin itu bertengkar. Perang urat saraf macam Amerika Serikat lawan Uni Sovyet di akhir abad 20 yang lalu. Hubungan bilateral terputus, dan kedua pihak melancarkan aksi diam layaknya demonstran di depan Komnas HAM. Bukan main!
Padahal penyebab pertengkaran itu sendiri tidaklah sedahsyat isu-isu di balik demo-demo tahunan yang pernah ada, seperti subsidi BBM, aliran dana BLBI atau naiknya prosentase pajak penghasilan belakangan. Sepele: Kesalahpahaman sahaja.
Ya, kesalahpahaman. Misunderstanding, kata beberapa anak Aceh yang (sejak tsunami mengimpor puluhan NGO dan bule) sudah mahir mencibir tape ketan dan memuja pizza sebagai makanan orang beradab, sudah pintar bilang pisang goreng bikin kolesterol dan friedchicken mestinya masuk dalam menu 4 sehat 5 sempurna, serta yakin bahwa KBBI mesti menambahkan kata “seafood” untuk segala jenis ikan di laut.
Nah, bak pepatah “karena si nila setitik rusak seafood susu sebelanga”, demikian pula pasal sengketa ini. Karena sms yang terketik, rusak jualah susunya… eh, suasana antara mereka. Cuma karena sebiji sms yang salah kirim. Begitulah.
Jadi ceritanya, si Bujang yang saat itu sedang sibuk di tokonya, mendapat sms plus telepon dari satu sobat di ibukota sana. Pening si Bujang. Tengah hari bolong di keramaian pembeli, dapat telepon bertarif hemat ala Indosat, no problemo-lah. Tapi isinya itu: curhat bak perawan belasan tahun. Benar-benar tarif hemat di saat yang tak tepat. Dicoba layani sebentar, eh jadi ngawur. Apalagi ketika si Sobat enteng berkata, “Sudah malas aku, ah! … He? Ya iyalah, malas aja makan hati buang waktu. Mendingan DO saja, dong!” Oh! Mau rasanya ia berteriak, “Ya iyalah, masa ya iya dong! Cewek aja dibelah blum tentu nyerah, kau malah curhat tengah hari bolong! Dasar gentong!”
Untunglah si Sobat bisa “diusir” dengan sopan, untuk menghubungi lagi agak sore nanti. Selepas itu, dibalasnya sms si Sobat, “baru didamprat dosen,cam org patah hati.jgn manja,an!skripsi itu kejar!klo perlu,itu dosen culik.ancam rendam di selokan.pusing mlulu.mo rileks?kawin aja sana sama dokter,biar gratis dpt curhat medis+pil tidur slusin.dijamin,rileks 4ever
“
Tanpa melihat status SENT di layar ponsel lalu dibenam di saku celana. Tanpa setahu si Bujang, itu sms salah kirim. Bukan ke si Sobat, tapi ke si Gadis yang sedang kepanasan di ruang kantornya sendiri. Lebih fatal lagi, ia tak tahu kalau si Gadis sedang uring-uringan. Selain dalam kondisi PMS, pekerjaan di kantor membuat tugas kuliah - yang sedang disambung - si Gadis terbengkalai sehingga diomeli dosennya sendiri.
Perang pun pecah. Si Bujang tak merasa bersalah, sementara si Gadis tak terima dicela begitu saja dengan pasrah. Si Bujang yang lalu sadar kesalahannya, mencoba menjelaskan. Tapi respon yang didapat sangat dingin. “Oooh… kebetulan salah kirim ya? Kebetulannya bisa persis begitu, ya?”
Di lain waktu, si Gadis yang agak melunak, mencoba bertanya tentang benar atau tidak penjelasan tersebut. Tapi si Bujang yang sedang suntuk, cuma menjawab, “Penjelasan yang mana? Yang ‘kebetulannya bisa persis begitu’ itu? Expired. Udah dicabut dari pasaran.”
Hubungan bilateral putuslah sudah. Komunikasi yang tersisa cuma bahasa diplomasi melalui perwakilan masing-masing: para teman baik yang mencoba berperan sebagai diplomat temporer.
Usaha perdamaian dicoba, baik dari mulut ke mulut, hati ke hati hingga sms dan telepon dari mereka dengan pesan, saran, dan harapan agar keduanya baikan. Tapi usaha dari mereka yang berada di lingkaran konflik itu, tak membuahkan hasil yang signifikan. Bahkan dengan membentuk joint council pun, konflik yang menjurus pada talak tiga tanpa peranan KUA itu tetap saja tak selesai.
Para juru damai mundur. Menyerah. Kecewa. Nominasi Nobel Perdamaian – seperti yang didapat bekas presiden Finlandia setelah mendamaikan GAM dan RI beberapa tahun lalu – lepaslah dari tangan. Sengketa yang lebih personal dari kasus Sipadan dan Ligitan itu, kecil peluangnya untuk didamaikan. Si Bujang mencari kesibukan dengan memancing ke pelabuhan atau kawasan irigasi, atau melahap buku-buku bacaan, dan keluyuran dengan tampang masa bodoh dan sorot mata yang bosan. Si Gadis pun sibuk dengan merancang pakaian, pekerjaan kantor atau berjalan-jalan sore dengan sepupunya. Klaim bahwa ”Nama dia sudah kufilter di hape! Sudah kuanggap spam!” menjadi konyol sendiri, karena tak ada sms atau telpon yang benar-benar masuk antara mereka (dan diam-diam mereka periksa saat malam atau saat bangun di pagi hari).
Namun peluang damai belum punah. Peluang itu masih tersisa, melalui seorang guru matematika baru mengajar di sekolah mereka dulu. Bekas teman lama itu, diam-diam mereka datangi secara terpisah dan dengan malu-malu menceritakan perang membuat jarak antara dua rumah mereka macam padang Kurusetra. Guru matematika itu, entah karena sedang merancang soal-soal ulangan, cuma memberi mereka saran yang sama: ”Coba bicara dengan isyarat matematika. Dengan angka.”
Nah, pada satu malam minggu, dengan menarik napas panjang, si Bujang mencoba datang ke rumah si Gadis. Hitung-hitung malam minggu terakhir sebelum minggat untuk merantau lagi, jika semua memang tak berjalan baik, pikirnya. Apa jadi, jadilah nanti. Ia sudah mempersiapkan tiga jurus untuk menaklukan hati si Gadis. Sengaja pula ia datang tak serapi biasa, cuma mengenakan jins hitam, sepatu kets hitam, kemeja polos hitam dan oblong hitam, macam orang berkabung di acara kematian. Selain agar tak kentara direncanakan, ia pun memang sudah siap berkabung malam itu. Sikap yang digagah-beranikan, yang membuatnya bisa berlagak tabah dan menolak dengan sopan, ketika dipersilakan masuk oleh kakak si Gadis, sementara si kakak memanggil gadis yang hendak diultimatumnya itu.
Si Gadis, setelah dipanggil dua kali oleh kakaknya, keluar juga menampakkan diri. Penampilan yang sama parahnya, tanpa polesan apa pun. Tidak seperti malam-malam yang pernah singgah dalam hidup mereka berdua. Bahkan wangi citrus yang biasanya terendus oleh hidung si Bujang pun tidak ada. Lebih hambar dari seiris roti tawar. Ditambah gaya si Gadis yang cuma berdiri sambil mendekap tangan dan menyandarkan bahu di tiang pintu. Tidak mempersilakan masuk ke rumah panggung bergaya jaman itu. Tidak pula memandang tepat pada si Bujang celaka yang kalang-kabut meracun gundah di hatinya, yang berpura-pura tanpa beban menghembus asap rokok ke udara. Tak ada yang angkat suara duluan, selain lirik-melirik saja. Yang bersuara hanya televisi yang sendirian di dalam, ditinggal seisi rumah yang tahu diri.
Sekitar satu menit berlalu, si Bujang membuang puntung rokoknya ke tanah dan memijaknya sampai remuk-redam di bawah sepatu. Ia menarik napas panjang dan tengadah memandang wajah cantik yang merengut pada pohon jambu di halaman, tak jauh dari tempat ia berdiri. Kesal si Bujang, merasa diremehkan dia. Seakan-akan yang datang bertamu si pohon jambu itu, bukan ia yang sekarang tegak macam orang dungu!
Dalam-dalam dibenamnya kedua tangannya di saku celana. Namun tak dilepasnya tatapan ke wajah si Gadis yang sedang menggigit-gigit bibirnya sendiri. Sadar dipandangi, si Gadis balik memandang dengan sorot tak mau kalah. Alisnya yang rapi terangkat, memberi isyarat yang bertanya,”Apa? Kenapa kemari? Mau apa kemari?” atau ”Kalau mau mengalah untuk bicara duluan, ya bicara saja. Jangan harap di sini yang ngomong duluan! Siapa juga suruh datang kemari?”
Si Bujang menggigit bibirnya sendiri. Kesal dengan alis terangkat yang menantang itu, dibulatkannya tekadnya untuk jurus pertama: menarik tangan kanannya dan mengacungkan telunjuknya membentuk angka satu.
Gadis di depannya diam sejenak. Terperangah. Terpana. Pipi putihnya memerah di bawah temaram cahaya lampu depan rumah. Mungkin ia marah. Tapi tak lama, ia balas mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Angka dua.
Kini si Bujang yang terdiam. Macam putus napasnya sesaat. Alisnya mengerut, matanya tampak jalang. Gelisah. Ragu-ragu sejenak, akhirnya dikeluarkan juga lagi jemarinya dan mengacungkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya. Angka tiga, disertai senyum tipis untuk menutup gundah hati.
Si Gadis, yang sedari tadi bersandar di tiang pintu, merona merah pipinya. Samar senyumnya tampak malu-malu. Pelan-pelan ia turun dan mendekat, hingga matanya yang kini gantian tengadah memandang si bujang yang gelisah. Ditautkan kelingkingnya ke kelingking si Bujang, yang terpana melihat si cantik kini tersenyum semanis madu kualitas ekspor. Lega wajah si Bujang. Damailah sudah dunia rasanya. Mestinya yang sedang berperang di Kongo pun sedang membakar senjata dan menari-nari macam film India. Oh! Tak perlu banyak kata, apalagi sampai menyebar poster MoU, untuk menyatakan hal itu. Pis poreber lah pokoknya!
Ketika esoknya gadis itu bertemu dengan guru matematika yang sudah memberi saran itu, ia pun berterimakasih dan bercerita tentang malam itu.
”Biasanya kalau dia sudah mulai bicara, saat kami mencoba damai, kalimat pertamanya yang keluar selalu bernada provokatif bagi saya. Dan itu membuat kami bertengkar lagi. Ucapannya bagi saya bernada jender, cuma karena ia laki-laki. Tapi malam itu,” kata si Gadis, ”ia tak bicara apa-apa. Ia cuma gelisah merokok di depan pintu rumah, lalu mematikan rokoknya, lalu menatap saya dalam-dalam. Kemudian diacungkannya jari telunjuknya untuk berkata, ‘Kamulah satu-satunya bagiku’. Hati saya tersentuh. Naluri kewanitaan saya luluh. Saya melihat ia tampak terluka dan gelisah kehilangan saya. Saya pun akhirnya mengacungkan jari untuk berkata, “Kamu tak sendiri. Satu tak ada artinya jika cuma sendiri.’ Eh, membaca jawaban saya, ia malah menjadi nakal. Matanya tampak jalang. Diacungkannya jarinya membentuk angka tiga, yang membuat saya malu membacanya. ‘Jika sudah berdua, mari bikin yang ketiga.’ Saya merasa sedang dilamar malam itu…”
Pada malamnya, si Bujang juga bertemu dengan guru matematika di sebuah restoran mungil dekat kantor TELKOM. Dengan segera ia mengasingkan diri dari rekan-rekannya, menemui si Guru dan menjabat tangannya untuk berterimakasih.
”Terimakasih banyak, Bung! Matematika memang keren! Bahasa yang benar-benar lugas memaknai realitas, bukan sekedar semboyan macam acara di TV. Jelas, eksak, cermat dan bebas dari emosi. Dari dulu saya tak suka matematika, tapi mulai sekarang saya akan coba memahami matematika, bahkan jika itu berarti saya harus mulai dari penjumahan dan pengurangan di SD lagi!”
Si Guru tersenyum, dan bertanya bagaimana bisa dengan matematika mereka rujuk kembali, sementara bahasa diplomasi yang sudah-sudah digunakan justru tak berhasil.
”Oh ya! Malam itu memang kami tak bicara sepatah kata pun, sejak saya nekad datang ke rumahnya, menolak untuk masuk ke dalam, dan menunggunya sampai ia berdiri di pintu. Tak sepatah kata pun, Bung! Saya kapok bicara duluan, karena setiap ucapan saya diartikannya sebagai ego lelaki yang anti jender, yang memerintah perempuan macam para wahabi di gurun pasir. Padahal tidak demikian. Bukan, bukan begitu! Saya orang yang doyan angkat bicara macam di organisasi. Kebiasaan buruk yang mestinya dimakluminya . Masa ia mesti keberatan kalau saya minta ia bicara duluan, karena memang biasanya saya mendengar saran dan pendapat dulu dari anggota? Tapi… ya itu dia, ia merasa saya perintah!
”Tapi malam itu tidak demikian. Saya sudah berniat memberi ultimatum. Saya acungkan jari telunjuk. ‘Ini malam minggu terakhir saya kemari. Cuma satu kesempatan lagi untuk berdamai. Saya sudah bosan mengalah!’. Dan ia terkejut. Ia kaget! Hahaha…” ketawa si Bujang.
“Dan… apa jawabnya?” Si Guru mulai penasaran.
“Dia memang keras-kepala, Bung! Sangat prinsipil dan merasa sudah mandiri, entah karena mentang-mentang sudah jadi pegawai negeri. Ya, saya jatuh cinta salah satunya karena sikapnya yang dewasa dalam prinsip dan kemandirian itu, tapi mana mau saya mengalah. Biarpun kuliah tak selesai begini, biarpun tak bertitel, tak berstatus kantoran sekalipun, saya tak mau mengalah! Ia acungkan angka dua. Wah, saya tak bisa terima itu. Oh, beraninya ia menantang saya, ‘Ya sudah. Masih ada yang kedua selain kamu. Kenapa tak hitung sampai tiga sekalian?’ Bukankah itu nantang namanya, Bung?!”
”Hah?” Si Guru matematika melongo. Tak sadar mencopot kacamatanya sendiri.
”Ya, dua. Ia menantang saya dengan angka dua. Dan itu berarti ia sudah bersikap kontra-ofensif terhadap ultimatum saya. Subversif. Makar. Saya kesal. Tapi serba salah. Di satu sisi, saya takut kehilangan dia. Di sisi lain, saya juga tak mau ego saya sebagai laki-laki tunduk di depan perempuan. Bahkan untuk berpura-pura sekalipun. Tidak, tidak akan. Lagipula, bisa saja ia pura-pura berani, bukan? Siapa tahu! Kesabaran saya sudah habis. Saya beri ultimatum penghabisan, sekalian harapan dan kesabaran yang tersisa. Tiga! Dan, benar dugaan saya. Ia menyerah. Ia mendekat dan menautkan kelingkingnya ke kelingking saya, tanda khas kalau kami berdamai. Eureka! Semoga Tuhan memberkati matematika!”
Si Guru matematika ternganga. Dunia memang tak seperti matematika yang dipelajarinya. Dunia punya perhitungan sendiri.
Moral of the story ? Jangan pernah salah kirim sms ke gadis yang nama panggilannya mirip dengan nama teman!
* * *
Cerita diatas bukanlah murni cerita olahan sendiri. Tulisan yang nyaris jadi cerpen itu diilhami dari tulisan Jujun S. Suriasumantri dalam buku “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer” (terbitan Sinar Harapan, Jakarta, cetakan 1985), pada sub-bahasan Matematika. Ide itu “diplagiat” dengan sikon yang berbeda dan karakter yang ’serupa tapi tak sama’ dari ide orisinilnya. Karena tulisan ini memang awalnya untuk koleksi pribadi, untuk nostalgia yang terancam berdebu kalau dipendam saja.
Bolehlah tulisan ini disebut sebuah nota perdamaian pula. Ya, menyampaikan pesan via tulisan seperti cerpen ini, kiranya lebih gampang daripada bicara. Konon bicara dengan arif-bijaksana membutuhkan kontrol emosi lebih matang dan jelas sukar untuk usia 20-an yang masih belum stabil benar. Lain jika bicara dengan bocah bernama Arif saja.
Alasan saya memposting tulisan ini (yang sah-sah saja dicap sebagai plagiat gagal dari idenya Jujun S. Suriasumantri itu) bukannya tak ada. Hasil dari ketikan cerpen-alike yang disisipkan di flashdisk dan dititipkan beserta pesan untuk membuka file ”plagiat untukmu.doc”, pada kenyataannya sukses dalam scene yang tak dramatis. Well… setidaknya saya mendapatkan apresiasi, ”cerpen plagiatnya bagus,knp tdk bikin yg orisinil dr ide jeniusnya sndiri? Uda buntu ide,he? Ya uda,ntar kmari,skalian ambil fdisknya lagi”.
Hohoho… apresiasi yang sadis, tapi cukup menyenangkan karena jembatan komunikasi lancar kembali tanpa butuh campur-tangan BRR yang subur-makmur itu.
Oke, itu alasan personal memang. Alasan yang lebih ”merakyat” lainnya, lebih karena obrolan semalam dengan beberapa teman. Obrolan yang diselip nostalgia masa remaja itu, ternyata ’kurang berkenan’ di hati 2 teman lainnya. Entah karena pernah merasakan pahitnya skandal percintaan di usia puber, atau karena masih merasa terkoyak-koyak hati karena wanita idaman belakangan sudah berjalan-jalan sore membawa bayi di gendongan, wallahu’alam. Boleh jadi pula karena ricuh-ricuh di daerah bikin gaji honorer jadi telat mengucur, dan mesti dimaklumi pengaruh uang saku pada pegawai bakti yang pionnya kucar-kacir di papan catur.
Nah, cerita nostalgia masa SMU, yang awalnya digelindingkan oleh satu teman lain, ternyata membuat celetukan, ”Jangan cerita jaman dibawa. Tutup buku sana! Macam Pance Pondaag saja, doyan lagu nostalgia!” muncul macam api di kompor gas. Yang nyeletuk teman yang keningnya sedang berkerut karena langkah L si Kuda benar-benar mati langkah.
Adu argumen pun muncul, meski belum sehebat anggota DPR yang sering buka ring tinju di Senayan. Awalnya saya cuek bebek mendengar debat itu, sambil merokok dan mengisi buku TTS yang lumayan tebal (tapi soalnya mirip-mirip semua). Beberapa menit berlalu, dan debatan tak reda. Mencoba netral, maka ijitihad dan fatwa pun mesti keluar demi meredam polemik 2 lawan 2 itu. Dan fatwa - yang pastinya tak seagung fatwa MUI tentang keharaman merokok – itu, lumayan meredam debat yang (jika dipolitisir) bisa jadi ajang sambit-menyambit bidak catur.
Nostalgia itu penting, demikian khotbah pembuka dimulai. Tidak sepenting kebutuhan primer manusia lainnya, memang. Orang masih tetap akan mati karena tidak makan, dan masih akan hidup meski tak bernostalgia. Tapi karena orang yang dibicarakan ini adalah MANUSIA dan bukan ORANG UTAN, maka nostalgia punya arti. Hidup manusia mengenal sejarah, pengalaman, perasaan, kenangan, pikiran, ingatan yang mendefinisikan kata nostalgia itu. Tanpa itu semua, manusia cuma macam robot belaka, yang hidup diatur oleh sistem yang sudah mapan. Dan segala yang sudah mapan, seperti halnya birokrasi, rentan untuk membuat batin kelelahan. Hidup jadi menjemukan.
Dalam hidup yang demikian, dengan tuntutan-tuntutan harian demi periuk nasi dan belanja bulanan, dengan pekerjaan dan rutinitas yang membuat lelah pikiran, menekan perasaan, nostalgia mampu menjadi sarana refreshing alternatif. Di sini nostalgia itu penting – dan perlu – argumen saya.
Memang aneh. Entah sejarah doyan melakukan perulangan atau memang sudah dari sononya, maka fase-fase kehidupan sering membentuk pola yang sama. Apakah pola itu dalam bentuk sistem harian, atau hanya pola pikir saja. Misal, remaja yang dulu mengecam orang-orang tua yang murka saat tahu anaknya pacaran – meski masih sopan dan hanya datang bertamu ke rumah sekalipun – di kemudian waktu perlahan mulai menjadi sosok dari orang-orang tua demikian. Tidak dalam hal mengecam adik perempuan (dan mengancam bocah laki-laki yang culun) saja, tapi juga dalam “melupakan dan biasa-biasa saja” atas kisah-kisah cinta di masa lalu.
Lupa secara alamiah adalah wajar. Tapi melupa-lupakan diri seakan hidup dimulai ketika diatas usia 25 atau 30 tahun, itu cuma sebentuk denial namanya.
Semakin dewasa, semakin tua, mungkin kita memang lupa (atau mencoba melupakan) betapa kisah-kisah masa remaja pernah punya arti tersendiri. Saat-saat penantian yang mendebarkan di tempat yang dijanjikan untuk bertemu. Perasaan harap-harap cemas sehabis ”nembak” si jantung hati-si bunga mimpi. Mau menjadi orang bego yang berjudi pada hitungan tokek di dinding (kalau suaranya terhitung genap artinya YA, dan kalau ganjil artinya TIDAK), atau merusak alam dengan mematahkan bunga liar di sudut sekolah dan mencabut kelopaknya sambil bergumam, ”Ia mencintaiku… Ia tidak mencintaiku… Ia mencintaiku… Ia tidak mencintaiku…” berulang-ulang.
Belum lagi sejumlah akal bulus untuk melancarkan operasi penaklukan, atau bagaimana melancarkan aliran fulus untuk biaya operasional. Oh, bukan main tips & tricks yang bisa tercatat untuk itu semua: mulai dari berpura-pura jadi siswa yang rajin dan rela meminjam buku si dia yang duduk di kelas yang berbeda, hingga sudi membawa payung ke sekolah dan khusyuk berdoa agar hujan turun sepulang sekolah nanti.
Aduhai tololnya masa-masa konyol itu! Tapi… bukankah itu memang pantas untuk dikenang bersama, untuk ditertawakan, untuk mengingatkan bahwa umur terus berjalan?
Memang di dunia ini ada sejumlah manusia realis yang berkhotbah pula, bahwa yang terpenting dalam hidup itu adalah bagaimana sekarang, bagaimana hari ini, dan bagaimana sains yang eksak lebih penting untuk peradaban daripada roman-roman picisan tentang percintaan dan gejolak kasih-sayang pemberian Tuhan.
Semua itu ilusi. Delusi. Halusinasi yang tak lebih penting daripada segumpal nasi. Toh, Tuhan saja bisa diklaim sebagai satu delusi, apalagi cinta-cintaan yang abstrak dan penuh gombal. Penuh rayuan pulau kelapa. Penuh sajak tentang bulan purnama yang indah, padahal dalam astronomi sudah sahih disepakati, betapa satelit bumi itu berwajah bopeng dan tandus. Tak ada rumah kebahagiaan di sana. Rumah? Bah! Oksigen saja tak ada!
Dan bintang? Oh! Itu cuma matahari lain yang jauh, yang bersinar karena reaksi nuklir sahaja. Pelangi? Aduh! Jangan tolol dengan keindahannya. Pelangi itu tak lain hanya refleksi cahaya seperti warna yang terbentuk pada gelembung sabun belaka. Tak romantis. Dan tak perlu romantis untuk itu!
Bahwa kemudian para realis ini mengakui betapa dulu juga pernah remaja, pernah mengalami gejolak kasmaran, konon itu tak ada maknanya. Bahwa dulu pernah sukses gemilang menaklukkan primadona sekolahan dan boleh bernyanyi “Dara Manisku” miliknya Koes Plus, atau malah hancur berantakan sehingga hanya ada “titik air mata dan senyum kehancuran” macam lagu Panbers, semua itu sungguh tak penting. Nostalgia cengeng ala remaja itu tak perlu diulang, tak perlu dikenang. Apa yang terpenting adalah menjadi dewasa, menjadi lebih bijak, menjadi lebih arif, lebih cerdas, lebih intelek, lebih matang dalam manajemen emosi, dan jelas lebih rasional dalam memandang kenyataan penghidupan.
Demikianlah sisi kemanusiaan yang memiliki urat-nadi etika, rasa, moral, dan kehalusan jiwa, ditikam oleh kemapanan untuk bersikap eksak, rasional, realistis sehingga apa yang disebut NASIB akan baru masuk akal selama bisa dimainkan di meja judi dengan teori peluang ala Blaise Pascal. Tak salah kanak-kanak mengeluh dalam Pangeran Kecil karangan Antoine de Saint-Exupery:
Orang dewasa senang sekali kepada angka-angka. Jika kau katakan kepada mereka bahwa kau mempunya seorang kawan baru, mereka tak pernah bertanya tentang hal yang penting. Mereka tak pernah bertanya, ”Bagaimana merdu suaranya? Permainan apa yang paling disenanginya? Apakah dia suka mengumpulkan kupu-kupu?” Sebaliknya mereka malah bertanya, ”Berapa umurnya? Berapa orang saudaranya? Berapa kilogram beratnya? Berapa besar penghasilan ayahnya?”
”De omnibus dubitandum!” teriak Rene Descartes. Segala sesuatu harus diragukan. Karena yang berteriak seorang Descartes, maka berbondonglah pemuja absolutisme matematis membenarkan. Padahal ’keraguan’ yang sama juga diserukan oleh Si Peragu Hamlet kepada Si Cantik Ophelia dalam drama Hamlet karya William Shakespeare;
Doubt thou the stars are fire
Doubt the sun doth move
Doubt truth to be a liar
But never doubt I love
Tapi apa kata-kata romantis - dan mungkin pernah terlontar sejenis ini di masa lalu kita - masih dihargai di zaman dimana kedewasaan (umur atau pengetahuan) menjadi raksasa yang pongah?
Jawabannya bisa Ya dan bisa Tidak. Ada yang sibuk berkutat dengan sastra melulu untuk setengah mati menjadi Chairil Anwar, ada pula yang sibuk dengan keilmiahan sains melulu dan setengah mampus berupaya menjadi Bertrand Russel moderen. Metodanya sama saja: mengeliminir satu sama lain. Yang beraliran romantis menganggap romantisme adalah segala-galanya, dan tanpa itu manusia macam bangkai berjalan, lalu menendang ke selokan semua buku-buku sains. Yang pemuja ide-ide saintifik menganggap era ”berperasaan” demikian sudah lapuk dimakan zaman, meremas poster Si Binatang Jalang yang sedang merokok dan menggantinya dengan poster ilmuwan. Perkara Bertrand Russel sendiri (dalam buku The Scientific Outlook-nya) juga menulis, “Pengetahuan dan perasaan adalah sama pentingnya dalam kehidupan individual masyarakat” dan bahwa ”…dunia tanpa kesukaan dan kemesraan adalah dunia tanpa nilai” sudahlah luput begitu saja dari benak.
Bagi saya pikiran demikian bukanlah pikiran yang menarik, meski belum tentu salah. Dalam sikon tertentu, kemapanan sikap demikian boleh jadi dibutuhkan. Tentu saja, jika anda wirausahawan, dan sedang mempresentasikan cara anda meraup dollar melalui artikel blog anda yang ilmiah, kredibel dan sudah menampung belasan adsense yang bisa membuat anda ongkang-ongkang kaki; sungguh tak layak anda tiba-tiba bercerita tentang kegombalan masa remaja anda.
Para blogger baru yang sedang ngiler dengan dollar bisa melongo dan mungkin membatalkan minat untuk berguru pada ke-master-an anda - meski anda sudah terbukti meraup penghasilan tanpa perlu keringat menetesi kerah baju - cuma karena nostalgia anda membuyarkan presentasi tentang bagaimana cara agar dollar (yang sudah meng-anjlok-kan rupiah belakangan ini) menjadi omset bulanan, hanya dengan menebar iklan komersil ala Google di blog. Jika ini yang anda lakukan, atau bahkan menyuruh mereka membuat tulisan nostalgia dunia-akhirat, bisa jadi artikel copy-paste untuk mengejar trefik akan lebih dilirik demi adsense, demi meraup dollar.
Pada sikon seperti itu, penolakan pada nostalgia bisa dimaklumi. Jelas, bahwa dalam mendedikasikan diri pada hidup, dogma ”hidup untuk hari ini, dan hari ini untuk merancang hari esok” dibutuhkan. Tapi, untuk kemudian menafikan nostalgia secara lahir-batin - selain kiranya sukar untuk dilakukan - adalah hal yang tak baik. Tidak salah, tapi tidak baik.
Katakanlah pada saat ini, apa yang di masa lalu pernah dikejar, digapai, sudah terwujud. Si gadis impian di masa remaja, sekarang sudah berstatus pacar, tunangan, atau bahkan istri. Atau mungkin sudah ada sosok lain yang hadir menggantikan, itu tak jadi soal. Yang jelas, status sudah ada. Yang ada, status sudah jelas. Apalagi dalam bentuk pernikahan, yang artinya sudah membentuk sebuah lembaga keluarga.
Pada sikon begini, nostalgia bukan berarti mutlak ditendang, disingkirkan. Ia harus hadir. Bukan, bukan untuk menengok ke belakang, lalu terpesona atau malah jadi down sendiri. Tapi untuk membunuh monotonnya hari-hari, untuk pelarian sejenak. Setidaknya, dengan mengingat nostalgia sendiri, kita bisa mempelajari apa yang salah dan apa yang benar di masa lalu. Atau, apa yang pernah kita anggap salah dan apa yang pernah kita anggap benar di masa itu.
Misalkan saja dulu, ketika gairah remaja membuat kita berteriak, ”Sudah kucipok dia! Siapa mau marah, hah?!” dengan gagahnya, saat teman berkata bahwa ciuman di gang sekolahan bisa ketahuan para guru. Nah, apakah kita masih memiliki visi yang sama di saat kita sudah dewasa? Apakah kita masih memandang kegagahan di masa remaja dulu, karena merasa berani menerabas aturan dan balik menantang, dengan cara yang sama pada hari ini? Bagaimana kalau kita mendengar adik perempuan atau bahkan mungkin anak perempuan kita diciumi kekasihnya di pojokan sekolah? Marah? Murka, lalu menyeret si perempuan belia dalam rumah dan pasang status offline alias DALAM PINGITAN?
Atau kita mencoba tersenyum maklum, lalu menceritakan bahwa dulu gairah yang sama juga pernah hadir. Gairah yang di saat itu kita sadar juga bahwa itu salah. Kita juga gelisah karena rasa berdosa. Dan dengan cerita demikian, kita berpesan dan me-wanti-wanti agar anak-anak hari ini (terserah apakah itu adik atau anak sendiri) tidak melampaui batas. Mencoba toleran, meski tidak bersikap lepas-tangan.
Meski nostalgia mungkin lebih akrab terdefinisi sebagai masa lalu yang penuh kenangan, namun sebenarnya bukan hanya sebatas itu saja adanya. Sesekali boleh dicoba untuk bernostalgia pada sejarah yang masih terhitung baru, mungkin dalam tahun ini atau tahun lalu, bulan ini ataupun bulan lalu. Setidaknya, ada alasan untuk tidak menjadi sekedar penggemar slogan ”Pengalamanan adalah guru terbaik” belaka.
Jujur saja, sebagai penulis lepas yang tidak produktif, saya sendiri sering mencoba nostalgia model begini. Sekurangnya, melatih ingatan dalam mengingat detil-detil peristiwa yang pernah ada. Jikapun hasrat untuk menuntaskan halaman-halaman naskah novel (yang sudah setahun lebih tertunda) ternyata tidak tuntas, tidak akan jadi soal. Pahit-manis hidup, pada akhirnya juga akan dibawa mati, dengan atau tanpa catatan buku harian atau bahkan postingan di blog sekalipun. Namun demikian, nostalgia personal begini, lumayan efektif untuk latihan mendeskripsikan detil-detil kejadian dan corak emosi yang pernah hadir. Dalam kondisi lain, metode begini bisa jadi bentuk lain dari meditasi temporer. Sebuah refleksi diri dalam lamunan menjelang tidur malam. Pencarian kesalahan-kesalahan sepele atau bahkan pembenaran akan sikap-sikap di tahun ini.
Mungkin dengan denting “Nostalgy”-nya Richard Clayderman atau lagu gombal “Just For You”-nya Riccardo Cocciante - yang kita dengar sembari membaca buku-buku astronomi dan filsafat matematika - akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali.
Dengan demikian, Insya Allah, akan tetap ada kesadaran bahwa kita menjadi dewasa, menjadi tabah, bukanlah dibentuk dengan begitu saja oleh siklus akademik, oleh diktat-diktat yang pernah nongol di bangku kuliah. Tidak juga oleh buku-buku berkualitas jenius yang mungkin kita lahap di perpustakaan. Tapi hiduplah, yang terus menggelinding, yang pada faktanya mengajari kita banyak hal. Suka tidak suka, masa lalulah yang membentuk kita hari ini. Bahkan meski kita mencaci-makinya, atau berpura-pura tak kenal, berlagak tak mau tahu, masa lalu ya tetap masa lalu. Ia akan tetap ada di belakang kita, untuk sesekali kita jenguk lewat jendela kenangan. Sebagai teman dimana kita rebah bergolek dan mendengarnya bercerita, mendongengkan hari-hari dulu, seperti saat kecil kita menangis-mengadu di pangkuan ibu.
Nostalgia, teman?
*putar Nostalgy-nya Richard Clayderman*
mantaps juga cara menyelesaikan masalahnya bang…seharusnya acungkan satu jari tengah aja pasti selesai masalahnya
Tes tes tes tis…
Hoi Hoi!
Itu yang komen atas nama alley… naujubillah… Bukan menyelesaikan masalah ngacungin jari tengah itu. Buset! Itu nambah sengketa, dodol!
Kau kira ini urusan surti-tejo macam lagu
jambretJamrud? Bah!Itu yang komen berikutnya, tes tis di sini? Hohoho… ini bukan klinik kebidanan, sompret!
jrit panjang bgt tulisannya
aku baca dari reader aja yak
apa kabar, bro?
Hahaha..
Mengingatkan pada dongeng masa kecil tentang Nasrudin Khoujah yang ditantang oleh seorang sufi..
Saya juga mulai mikir-mikir, bagaimana kalau seandainya anak saya kelak ternyata sebengal saya..
Hayoo… Mr. Cobain join with us.
Kita sedang menggarap buku yang berjudul “LASKAR PULANGIN”
**lirik Nia Daniaty ..pulangkan saja aku pada org tua ku ato se..lingkuhan..ku… he..he..he..
Ada yg dah kabur dari asrama bitai
**jambak2 giginya..
panjang banget…
pindah kok gak bilang-bilang Lex?
*dipentung karena OOT*
*kuciwa*
kirain alex bener2 mau merantau ke ambon….
*dihajar pake kopi aceh*
wah jangan2 si deking nih yang jadi juru damai….
uhuk.. btw tinta merah?? what the meaning lex??

*muter emi fujita*
@ edy
Iya, kepanjangan. Aku juga nyadarnya itu kepanjangan abis tampil di sini. Di Ms Word kok pendek rasanya?
*dikemplang*
Kabar baik, bro. Lama tak besua akrab cam dulu lagi kita
@ Nazieb
Nasrudin Khoujah? Yang humor tentang para sufi itu? Saya udah kehilangan bukunya
Hoho… katanya karma itu berlaku. Nah, hayoo… kalo anaknya nanti cipo’an terus ketaun juga sama guru, gimana?
@ thebunx
La..Laskar Pulangin?!
Ada-ada saja. Siapa pulak itu yang mau nulis bukunya? Odong Hirata atau Momo Himura?
Ehem… Nia Daniaty…
@ itikkecil
Maaf, kepanjangan terus postingan belakangan ini. Lepas dari koneksi net, jadi lancar nulis dengan pulpen lagi, jadi tak terasa kalo nulis malah jadi panjang2 begini
Wah, dulu pernah pajang status pindah. Tapi, hehehe… udah kadung nomaden, jadi risih rasanya kalo mengiklankan pindah, bikin repot yang pada ngapdet blogroll
@ almascatie
Ke Ambon?
Minat. Sangat minat. Saya mau pulak merasakan itu cam mana rasanya makan sagu, apa sama macam yang diolah ibu di sini
deking?
Itu jagoan matematika apa sudah jadi guru ya?
*kangen deking*
Tintamerah? Ya, ndak bisa didefinisikan juga. Dapat ini nama dulu mencuat begitu saja dikepala, waktu bikin blog di blogger.com
Karena identik dengan catatan penilain guru di rapor, mungkin?
Tapi dulu pulpen para guru saya biru
Wassalam kenal.
Tulisan yang bagus.
Padahal tujuan awal cuma mau sampaikan kalo saya ada komen balik komen sampeyan di blognya agenminyaktanah, tapi kok tertarik dan malah terjerumus mbaca nostalgia sampeyan.
Lucu. lucu.
Tulisan yang bagus.
Makasih udah mampir, bro
Ah, nostalgia…
*melirik tumpukan catatan harian selama bbrp tahun trakhir yang pantang dibuka lagi*[...] Dari hal-hal remeh seperti lagu Melayu nan gombal hingga sebuah pertengkaran kecil yang anda cerita-pendekkan sebagai nostalgia dengan iringan Richard Clayderman mendentingkan [...]
[...] pelarian hidup. Tidak pula berubah ketika di penghujung tahun kau mengenali seseorang yang mengisi cerita perang dingin, dalam hubungan yang tak [...]
[...] pasangan yang sudah dipilihnya itu. Suka berlagak merumitkan segala sesuatu, lalu dalam hubungan sesekali bertikai, yang dibingkai dengan masa transisi macam pemerintahan [...]